Beranda > Pentas Seni > Gesang Menyatu Dengan Masyarakat Jepang

Gesang Menyatu Dengan Masyarakat Jepang


Jumat, 21 Mei 2010 10:52 WIB |
Solo Duta Besar Jepang untuk Indonesia di Jakarta, Kojiro Shiojiri, mengatakan, nama Gesang dengan lagu ciptaannya, “Bengawan Solo”, sudah menyatu dengan masyarakat Jepang.

“Untuk itu, kami sempatkan datang di rumah duka di Kota Solo, untuk memberikan penghormatan yang terakhir terhadap almarhum Gesang,” kata Shiojiri saat melayat jenazah sang Maestro Keroncong Gesang Martohartono (92), di Solo, Jumat.

Dubes Jepang yang hadir di rumah Duka, Jl Bedoyo No.5 Kemlayan, Solo, Jawa Tengah, sekitar pukul 08.00 WIB langsung mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga almarhum dan kemudian memberikan penghormatan di ruang jenazah.

Shiojiri mengatakan, pihaknya atas nama masyarakat Jepang merasa kehilangan tokoh seniman besar asal Solo itu, karena lagu “Bengawan Solo” sudah menyatu dengan warganya.

Menurut dia, lagu yang diciptakan Gesang terutama Bengawan Solo sangat dicintai oleh masyarakat Jepang, karena dalam liriknya menggambarkan keramahan rakyat Indonesia terhadap masyarakat Jepang.

Sementara ratusan pelayat, sanak keluarga besar Gesang, warga sekitar, sejumlah para tamu baik pejabat di lingkungan pemerintahan Jawa Tengah, Kota Surakarta, pusat, dan sejumlah seniman hadir di rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum

Gesang, Maestro yang Bersahaja
Liputan 6 – Jumat, 21 Mei liputan6.com, Jakarta: Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa melegenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu adalah Gesang Martohartono. Lagu Bengawan Solo diciptakan pada 1940, saat ia berusia 23 tahun. Pada saat itu, ia tengah duduk di tepi Bengawan Solo.
Musisi senior kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917, tersebut selalu kagum dengan sungai itu sehingga terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses kreatif lagu ini memakan waktu sekitar enam bulan.
Tidak hanya di Tanah Air, Bengawan Solo juga memiliki popularitas di luar negeri, terutama di Jepang. Bahkan lagu ini sempat dipakai dalam salah satu film layar lebar di Negeri Sakura.
Gesang pertama kali menciptakan lagu pada 1938 berjudul Keroncong Piatu. Sementara lagu Bengawan Solo yang diciptakan pada 1940 adalah karyanya yang ketiga.
Namun tidak selamanya popularitas yang diraih Gesang menjamin tingkat kesejahteraan hidup. Kondisi ekonomi Gesang tak beranjak baik. Bahkan rumah hadiah tipe 21 di Perumahan Nasional Palur, Surakarta, Jateng, yang pernah dihuni bersama sang istri tetap dengan bentuk aslinya.
Meski demikian, sebagai seniman yang tak terlalu pusing memikirkan soal kemapanan, dia tidak pernah mengeluh, apalagi kecewa. Malah sebaliknya, Gesang bangga lantaran lagu hasil karyanya laris manis dan terus diproduksi. Dia juga tak pernah berpikir untuk menerima royalti dari setiap karyanya.
Setelah sang istri meninggal dunia dua tahun silam. Rumah tipe 36 di Perumnas Palur, Karanganyar, Surakarta, yang masih ditempati hingga tiga tahun silam, kini ditinggalkan. Gesang memilih pindah ke Kampung Kemplayan, rumah saudara kelimanya, Toyibi. Sedangkan rumah hadiah almarhum Soepardjo Roestam saat menjabat gubernur Jawa Tengah, dibiarkan ditempati keponakannya.
Sikap lugu Gesang yang tak memikirkan royalti, mengundang simpati PT Penerbit Karya Musik Pertiwi (PT PMP). Sejak 1996, perusahaan itu berjuang mengumpulkan keuntungan dari karya Gesang di seluruh dunia yang mencapai puluhan juta rupiah setiap tahun. Di usia senja, Gesang pun sempat menikmati hasil jerih payahnya secara materiil.
Saat ini, lagu-lagu yang diciptakan Gesang diakui sebagai aset nasional. Agar karya Gesang tetap abadi maka PT PMP menerbitkan buku berisi 44 partitur serta syair-syair lagu [baca: Gesang Mulai Memetik Royalti].
Semasa hidupnya, Gesang menikmati hari tua dengan bercengkerama bersama sejumlah burung kacer merah kesayangannya. Sesekali ia masih berusaha berjalan di sekitar rumah, menikmati alam pedesaan. Walaupun harus dilakukan dengan susah payah dan tertatih-tatih.
Kini, sang maestro keroncong itu telah pergi. Setelah dirawat selama sembilan hari, Gesang Martohartono mengembuskan napas terakhir dalam usia hampir 93 tahun di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/5). Sang maestro wafat pada pukul 18.10 WIB setelah kondisinya kembali menurun drastis sejak pukul 12.00 WIB tadi. //Sumber berita wep antara-jumat-21 may 2010

Kategori:Pentas Seni
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: