Beranda > Tak Berkategori > AWANG GARANG

AWANG GARANG

AWANG GARANG

ADEGAN 1
            Awang garang adalah seorang pemuda miskin yang ingin sekali menguasai laut. Ia senang mengikuti kegiatan nelayan menangkap ikan karang. Ia juga gemar mengarungi selat dan lautan di sekitar Kepulauan Segantang Lada. Tapi  kenyataanya, awang hanya menjadi seorang pekerja pada seorang wanita keturunan China yang merupakan juragan ikan besar disekitar pelabuhan.
Juragan         : Awang, ikan-ikan pesanan Pak Ahmad sudah lu antar?
Awang                       : Sudah buk, tapi……………………..
Juragan         : Tapi apa? (dengan nada penuh tanda Tanya)
Awang                       : Ia sedang tidak punya uang, dia minta…………
  Juragan         : Apa?? (dengan nada tinggi), sudah berkali-kali oe katakan, jangan pernah berikan ikan-ikan oe pad orang yang berhutang!! Sekali lagi lu lakukan, lu olang berhenti kerja disini!!!!!! (lalu pergi meninggalkan awang.
            Lalu, awang yang merasa kesal dan terlihat sedih melnjutkan pekerjaannya, Lalu, sahabatnya Alipun datang.
Ali                    : Hai awang, ada apa dengan muka kau? Kenapa kau bermuram durja??
Awang           : Bu Aling sangat murka karena aku memperbolehkan Pak Ahmad untung                                                                 berhutang, aku tidak tega melihatnya.
Ali                    : Benarkah??
Awang           : Sementara itu kau tahu bukan mengapa aku rela bekarja di sini?? Aku hanya ingin menjadikan pekerjaan ini sebagai batu loncatan, agar kelak nanti aku bias mengarungi lautan.
Ali                    : Ya kawan, aku paham, aku yakin kau bias mencapai semua itu, terlebih lagi kau punya tekad yang kuat.
Awang           : Semoga saja!
Adegan 2
                                   Sementara itu, sekelompok lanun dari Sulu berkeliaran dan sedang hendak menuju ke Kep. Segantang Lada.
                        Kapten               : Jack, kemana tujuan kita berikutnya??
                       Jack              : Menurutku pulau itu adalah tujuan kita berikunya kapten?? Kita pasti menemukan apa yang kita inginkan.
Kapten           : Ben, bagaiman menurutmu??
Ben                : Baik kapten, saya sangat setuju. Di sana pasti banyak gadis-gadis yang cantik kapten.
Kapten           : Jack, arahkan kapal ke pulau itu. Kita akan bersenang-senang disana. (dengan senyuman yang sombong)
                                      Setelah mendarat di pulau itu, para lanun melancarkan aksinya. Mereka merampok harta benda dan merampas muatan perahu dagang. Keresahan masyarakat bertambah karena lanun terkenal ganas suka menculik anak gadis dan wanita cantik dimana saja.
Kapten           :(mendatangi pedagang tua yang sedang berdagang bersama anak gadisnya) Hei pak tua, serahkan semua uangmu!!!
Lelaki Tua     :Ampun tuan… saya belum mendapatkan apa-apa hari ini, dagangan saya belum ada yang laku.
Kapten           : Ah… sudah bosan hidup kau rupanya? Au akan rasakan tajamnya pedangku ini!! (sambil bersiap mengeluarkan pedang)
Ben                : Tunggu kapten, tak ada gunanya membunuh lelaki tua yang reot ini. Ambil apa yang kita perlukan darinya dan tinggalkan tempat ini.
Kapten           : Tapi apa yang bias kita ambil?? Hanya ada sayuran busuk dan tidak berharga ini.
Jack              : Culik saja anak gadisnya kapten, kita bias bersenang-senang dengannya.
Boleh jug aide kau, bawa gadis itu kepal, dan kita akan bersenang-senang di tempat persembunyiaan kita.
Gadis            : Jangan tuan!! Jangan sakiti saya!! ( sambil menangis )
Lelaki tua     : Tuan jangan sakiti anak saya, ampun tuan.
Kapten           : Diam kau!!! Jangan banya bicara. ( sambil mendorong lelaki tua hingga jatuh )
Adegan 3
                                    Lalu, para lanun itu pergi membawa gadis itu ketempat persembuyiaanya. Cerita tentang keganasan lanun ini sampai juga ketelinga para datuk, mereka merunding bagaimana cara menghalau lanun ini. Hasilnya, mereka memutuskan untuk membuat penjajap yang pembangunannya akan dibiayai Sultan. Awang pun juga ingin meghalau lanun itu. Dia sedang asyik bercakap-cakap dengan sahabatnya Ali.
Awang           : Sahabatku, sungguh resahlah hatiku dengan ulah lanun itu di desa kita. Aku ingin sekali menghalau dan menangkap mereka.
Ali                  : Akupun begitu, rasanya tidak mungkin kalau hanya kita berdua yang menghalau    mereka.
Awang           : Seandainya saja ada cara untuk menghalau mereka…
Ali                  : Awang, seingatku para datuk sedang mencari pekerja..
Awang           : Pekerja apa?
Ali                  : Pekerja untuk membuat penjajap yang akan digunakan untuk mengusir lanun itu.
Awang           : Tapi dari mana datuk-datuk itu mendapat biaya untuk pembuatan pembuatan penjajap, kau tahukan keuangan desa kita ?
Ali                  : Kali ini sultn langsung turun tangan, beliau yng menanggung semuanya.
  Awang        : Benarkah itu??? Bisakah kita ikut membantu pembangunan penjajap itu?
  Ali                  : Tentu saja, para datuk butuh banyak pekerja agar penjajap itu cepat selesai.
  Awang        : Baiklah, ayo kita kesana sekarang.
Adegan 4

                               Akhirnya, awang dan Ali menjadi pekerja dalam pembuatan penjajap tersebut. Tapi, karena tempat penyusunan penjajap itu belum jelas, maka pra datuk berunding untuk membahas tempat pembangunan penjajap itu.

                  Datuk Maro    : Baiklah para datuk, mengenai tempat penyusunan penjajap ini masih belum jelas, adakah saran dari datuk-datuk semua??
                  Datuk Sugi     : Bagaimana kalau di pualu Perkaka saja?
                  Datuk Maro    : Pulau itu terlalu jauh, kita harus cepat menyelesaikannya, karena kita memegang amanat sultan.
                  Datuk Bulang : Kalau boleh saya usul bagaimana kalau kita pilih pulau yang terletak disebelah Selatan Bulang Rampang dan perairan bintan bagian barat. Lagi pula pulau itu adalah pulau terdekat.
                  Datuk Maro    : Datuk sugi, bagaiman pendapatmu? Apakah datuk setuju?
                  Datuk Sugi     : Baiklah, yang penting penjajap itu bias selesai secepat munkin.
                 
                  Adegan 5
                            Akhirnya, pembangunan penjajap itu dimulai. Kali pertama pembuatan penjajap itu, mereka memilih kayu medang tandu untuk bangunan perahu perang itu, tetapi pembangunan pertama ini gagal.
                  Datuk Maro  : Ternyata kayu medang medang tanduk yang kitra pilih tidak menjanjikan, bagaimana kalau kita memilih bahan lain untuk menyusun perahu ini?
                  Datuk Sugi     : Lalu kayu apa yang kita pilih untuk menggantikan kayu medang tanduk tersebut, agar perahu kita selesai?
                  Datuk bulang : Bagaimana kalau kayu medang tembaga, datuk?
                  Datuk Sugi     : Menurutku  itu usul yang bagus, karena kayu itu sanagat kuat dan kokoh.
                  Datuk Maro  : Baiklah tidak ada salahnya kalau kita mencoba. Kalau begitu, datuk sugi tolong sediakan bahan kayu medang tembaga itu secepatnya!!!
                  Datuk bulang : Baiklah datuk, akan saya usahakan secepatnya.
                        Setelah bahan penjajap itu tersedia, para pekerja mulai lagi bekerja. Tapi setelah 3 bulan penyusunan, penjajap itu tetap juga gagal dibangun. Para datukpun kecewa karena usaha yang mereka lakukan tidak satupun yang berhasil.
                 Datuk bulang      : Kurang Ajar!!! Mengapa usaha yang kita lakukan masih tida berhasil, SIAL……….
               Datuk Maro  : Betul datuk, mengecewakan sekali hasil pekerjaan kita ini, tenaga yang kita keluarkan sia-sia!!
                 Datuk Sugi     : Lantas, bagaimana caranya agar perahu perang ini berhasil kita bangun?
                 Datuk bulang      : Aku tidak tahu apa lagi yang harus kita lakukan.
                       Lalu, awang datang menghampiri para datuk dan ia mencoba memberi usul demi keberhasilan pembangunan perahu perang tersebut.
               Awang Garang : Datuk, jika boleh saya memberi saran, kita membutuhkan 3 jenis kayu untuk membangun………………………………
               Datuk Maro  : Hai Awang!!! Sudah hendak melebihi kami yang tua-tua pula kau.
               Awang Garang : Maaf datuk, saya hanya ingim memberi usul.
               Datuk bulang : Hai awang!! Tahu apa kau mengenai hal in? ku harap kau jangan sok paham.
               Awang Garang : Maaf datuk, tapi kalau tidak memakai tiga jenis kayu, sampai kiamatpun perahu ini tak akan jadi.
               Datuk Sugi     : Hai awang, beraninya kau berbicara seperti iyu kepada kami, baru dikasi pipi sudah hendak hidung rupanya kau!!!!!!!!
               Awang Garang : Saya hanya sekedar berpaham datuk.
                       Akhirnya usulan awang diterima oleh ketiga datuk. Tapi mereka merasa dilangkahi oleh kaum muda.
               Datuk Maro    : Datuk sugi, datuk galang, bagaiman jika kita mencoba paham si awang.
               Datuk bulang : Tapi, bagaimana jika nanti paham si awang  itu tidak berhasil??
               Datuk Sugi       : Tentu saya akan kehilangan banyak waktu dan kitaoun akan rugi.
              Datuk Maro    : (menghela nafas) sebaiknya kita coba saja, sebelum sultam murka karena kegagalan kita.
              Datuk bulang : Kalau emang begitu, baiklah.
              Datuk Sugi         : Hai awang, kemari kau!!!!!!!!!
              Awang              : (meninggalkan pekerjaannya dan menghadap datuk) Ada apa gerangan datuk??
              Datuk Maro    : Baiklah, kami akan mengikuti usulanmu, kayu apa yang akan kau usulkan?
              Awang              : Baik, untuk papan perahu kita gunakan kayu medang sirai, gading-gadingnya adalah kayu penaga.
              Datuk Sugi         : (memotong pembicaraan awang) Kenapa kau begitu yakin penjajap ini akan kokoh apabila menggunakan kedua kayu ini?
              Datuk bulang : Datuk sugi, sebaiknya biarakan awang menyelesaikan pembicaraanya!!!
              Awang              : Dan untuk 1 unas perahu  itu, kita gunakan kayu keledang. Insyaalah penjajap ini akan kokoh.
             
              Adegan 6
                    Benarlah paham awang, setelah tiga bulan bekerja tampaklah bangunan perahu perang itu hampir selesai.. Dengan perasaan jengkel datuk bulangpun melapor kepada sultan bahwa penjajap tersebut hamper selesai.
           Sultan                : Kenapa sampai saat ini belum ada berita dari datuk-datuk itu mengenai pembangunan penjajab? Sungguh risau hatiku.
           Pengawal         : Sabar sultan, tidak lama lagi pasti aka nada beritanya.
           Sultan                : Tapi sudah 6 bulan berlalu, seharusnya kapal itu sudah berlayar.
           Pengawal         : Kami yakin sultan, para datuk itu akan dating mempertanggung jawabkan semuanya, sultan bersabat sajalah.
                 Ketika pembicaraan itu berlangsung, datanglah datuk bulang untuk memberitahukan perihal penjajap yang hamper selesai itu.
           Datuk bulang : Assalamualaikum……….
           Sultan dan pengawal: Wa’alaikumsalm……..
         Sultan                : Kau rupanya datuk bulang, aku sudah sangat risau menanti kabar mengenai kabar penjajap itu. Apa yang akan kau katakan?
           Datuk bulang : Sebelumnya hamba minta maaf karena kapal itu sepenuhnya belum selesai, tapi sedikit lagi.
           Sultan                : Apakah masih lama waktu penyelesaiannya?
           Datuk bulang : hamba rasa tidak sultan, Tapi………..
           Sultan               : Mengenai biaya jangan kau fikirkan. Yang penting bagiku adalah keamanan daerah kita.
                                      Pengawal, bawa datu dan berikan ia tambahan biaya untuk penjajap itu.
           Pengawal 1    : Baik sultan. Baiklah datuk, mari ikut saya.
           Datuk bulang : Hamba sangat berterima kasih sultan.
                             Lalu, datuk bulangpun pergi mengikuti pengawal, setelah pengawal itu menyerahkan uang, datuk bulang tetap saja kelihatan tidak senang.
Pengawal 1    : Alaamak datuk, apakah biayanya masih kurang?
Datuk bulang : Bukan, hanya saja………..
Pengawal 1    : Jadi, apalagi yang datuk risaukan?
Datuk bulang : Hanya saja aku masih tidak senang dengan pemuda angkuh yang bernama awang garang!
Pengawal 1    : Sudahlah datuk, biar panas dihati, kepala tetap didinginkan.

Adegan 7

           Setelah itu datuk Bulang pergi meninggalkan istan sultan, sementara itu tukangpun semakin giat bekerja. Tarah menorah dan potong memotong kayu, kelepak-kelepuklah bunyinya sepanjang hari. Pada suatu hari, mata awing terkena lentingan tatal kayu karena ia berdiri terlalu dekat dengan tukang yang bekerja.

   “KELEPUK”
   Awang            : Ya Allah, pecah mataku (sambil menjerit), memang perahu sial!!!!!!!!!!
  Ali                     : Hai awang,  ada apa??? Kenapa kau berteriak-teriak, dan apa yang terjadi dengan mata kau?
   Awang            : Perahu sial ini telah membutakan mataku, terbangkalailah engkau tidak dapat diturunkan kelaut. Kusumpah!! Kusumpah kau kapal sial……..
  Sudahlah wang, jangan berteriak seperti itu, kalau para datuk mendengarnya, matilah kita.
Awang              : Aku tida perduli, perahu ini sungguh sial. (sambil berteriak)
         Lalu teriakan awang tersebut terdengar oleh datuk-datuk. Mereka sangat marah, lantas menghampiri dan menegur awang.
Datuk Sugi        : Hai awang, apa maksud ucapanmu tadi? Kau menyumpahi perahu inikan?
Datuk Maro     : Tak pantaslah kau menyalahkan perahu ini, apabila matamu terkena lentingan kayu, itu karena keteledoranmu dan juga akibat keangkuhanmu.
Awang              : Sudahlah datuk, aku sudah muak dengar ocehan kalian semua!!!!!
Datuk Sugi        : Lancang sekali kau!! Sekarang juga pergi tinggalkan tempat ini.
Awang              : Tak payahlah datuk mengusir saya!!
                             Saya memang akan pergi sendiri.
Ali                             : Tapi awang………..
         Awang                : Sudahlah, aku sudah muak dengan semua ini.
         Datuk Bulang   : Sebaiknya kau cepat pergi sebelum kesabaran kami habis.
        
           Adegan 8
  Lalu awang pun pergi meninggalkan tempat itu. Matanya pun buta sebelh dan terpaksa memakai penutup mata warna hitam. Awangpun pulang dengan mata buta dan perasaan kesal. Sesampainya dirumah, ia bertemu dengan ibunya. Ibunya sangat kaget melihat keadaan anaknya yang sudah buta.
         Awang              : Assalamualaikum………..
         Ibu            : Waalaikum salam, ya Allah nak, apa yang terjadi dengan matamu?
         Awang              : Ini semua gara-gara penjajap sial itu bu,, penjajap itu yang telam membuat mataku buta.
         Ibu                     : Tapi bagaimana ini bisa terjadi??
         Awang              : (sambil menghela nafas) Mataku terkena lentingan kayu bu, dan sekarang aku tidak mau tau lagi soal penjajap itu.
         Ibu                     : Sudahlah nak, kau jangan menyimpan dendam, anggap saja ini ujian Allah.
         Awang              : Asragfirullah,, maafkan aku bu! Tak harusnya aku menyumpah tadi.
         Adegan 9
                 Setelah bercakap-cakap dengan ibunya, awangpun pergi menemui kekasihnya yang tidak lain adalah putri sultan.
         Awang              : (datang dari belakang), maafkan kakanda karena telah membuat dinda lama menunggu.
         Putri                   : Mengapa kakanda memakai penutup mata itu? Apa yamg terjadi? (terlihat sangat terkejut)
        Awang      : Ketika kanda sedang bekerja membuat penjajap itu, lentingan kayu mengenai mata kakanda dan inilah hasilnya. Kanda sekarang buta sebelah.
         Putri                   : Tak apa kanda, dinda tetap mencintai kanda apapun yang terjadi.
          Awang             : Benarkah? Walaupun dengan keadaan seperti ini?
         Putri                   : Ya kanda, lalu bagaiman dengan penjajapnya? Apakah sudah selesai?
        Awang              : Entahlah, para datuk itu telah membuang kanda, karena setelah kejadian itu, aku menyumpahkan perahu itu agar tidak bias berlayar.
         Putri                   : Lalu, bagaimana dengan nasib desa kita?? Yah pasti akan sangat murka sekali.
         Awang              : Entahlah dinda, kita lihat saja apa yang terjadi besok………
        Putri                   : Kanda, hari sudah sore. Dinda harus pualng, karena tadi dinda keluar tanpa sepengetahuan ayah.
       
        Adegan 10
         Setelah bercakap dengan awang, sang putrid yang keluar tanpa sepengetahuan sultan itupun berjalan sendiri menuju istana. Ternyata dijalan, dia dikagetkan oleh kedatangan para lanun yang masih belum puas bejatnya.
Ben                        : Hai cantik, hendak kemana sayang?
Jack                     : Sudilah kiranya kau ikut dengan kami, kami akan membawamu bersenang-senang.
Kapten                 : Ha ha ha ha, benar. Ayo cantik kita bersenang-senang.
Putri                     : Pergi kau lanun-lanun busuk. Tolong!!!!!!!! Tolong!!!!!!!!!!!!
Ben                        : (sambil memegangi tangan putri) Sssstttt, jangan berisik sayang………
Putri                     : Lepaskan aku!! Tolong!! Tolong………….
                              (para lanun membekap mulut putri agar tidak bersuara lagi)
Kapten                 : Jack, ayo bawa dia….
Jack                     : Baik kapten…
Adegan 11
         Setelah menculik putri, lanunu-lanun itu menghilang. Sultan baru menyadarinya setelah malam hari. Kemudian ia bertanya kepada pengawalnya.
Sultan                   : Pengawal, kalian tau dimana putriku!! Dari tadi siang aku tidak melihatnya???
Pengawal          : Tidak sultan, kami benar-benar tidak tahu dimana gerangan tuan putri.
         Tiba-tiba datang seorang wanita dengan tergesa-gesa. Ia mengaku bahwa ia melihat putri diculik oleh sekelompok lanun. Dia menceritakan apa yang dilihatnya kepada sultan.
Wanita                 : Assalamualaikum…..(terengah-engah)
Sultan                   : Waalaikumsalam, ada apa buk? Kenapa ibuk kelihatan panic?
Wanita                 : Maaf sultan, tadi hamba melihat kalau tuan putri diculiik oleh sekelompok lanun. Hamba tak kuasa membantunya.
Sultan                   : (langsung berdiri) Benarkah?? Pengawal!! Cepat suruh seluruh pengawal lainnya untuk mencari putriku dan cepat panggil datuk-datuk. Aku mau kapal itu berlayar sekarang, sebelum para lanun itu jauh.
Pengawal          : Baik sultan!!!
Adegan 12
         Akhirnya, penjajap ini telah selesai, tinggal waktu menurunkan perahu kelaut. Sudah lebih sebulan para datuk dan pekerja berusaha menurunkannya. Sementara sultan sudah ingin penjajap ini berlayar. Datuk-datukpun membicarakan cara agar penjajap bisa berlayar.
Datuk moro         : Aku sungguh tidak mengerti, apa lagi yang salah dengan kapal ini?
Datuk bulang    : apa mungkin sumpah awang itu berlaku?
Datuk sugi          : maksud datuk apa?
Datuk bulang    : apakah datuk-datuk sudah lupa apa yang dikatakan awang??
Datuk moro         : Aku ingat, Bisa saja ini memang ada hubungannya dengan sumpah awang         garang.
Tiba-tiba……..
Pengawal          : Wahai datuk semua, sultan sangat murka, sang putri diculik oleh lanun.. oleh karena itu sultan ingin kapal ini berlayar sekarang. Sultan tidak mau mendengar alas an apapun, yang beliau inginkan hanya kapal ini berlayar!! Saya harus pergi mencari putri, sekarang. Assalamualaikum….
Datuk bulang    : Tidak ada cara lain, kita harus menemui awang
  Adegan 13
         Pada saat para penguasa itu kebingungan, awang garang yang disisihkan selama 2 bulan itu dipanggil lagi. Awang yang sedang bekerja dipasarpun dikagetkan dengan kedatangan datu-datuk.
Datuk sugi          : Kau awang, dulu kau menyumpah agar penjajap tidak bisa berlaya, kini kau dituntut oleh sumpahmu itu!!!
Datuk moro         : Jangan cakap besar saj, tetapi berbuat. Turunkan penjajap itu atau kepala kau   sebagai semahnya.
Awang                      : Apa yang membuat saya harus menuruti perintah datuk?
Datuk moro         : Lanun itu telah menculik putri sultan, dan sultan sudah sangat murka!!!!!!
Awang                      : Apa??? Putri diculik………                                                                                           (sambil berfikir sejenak) Baiklah, saya akan turunkan perahu itu dan kepala saya jadi jaminannya, tetapi datuk-datuk harus berjanji memenuhi syarat-syaratnya.
Ketiga datuk       : Ya…… baiklah….
Datuk bulang    : Kami akan memenuhi persyaratanmu.
Datuk moro         : Tapi kalau gagal, ingatlah kepalamu jadi jaminannya.
Awang                      : Baiklah, pertama berikan beberapa pembantu lengkap dengan alat perkakas, cangkul, kapak, dan parang.
Datuk sugi          : Hanya itu syaratnya?
Awang                      : Tidak, yang kedua, semua datuk dan sultan harus hadir menyaksikan, tetapi   mata harus ditutup dengan kain hitam. Dan yang ketiga dan yang paling berat!!
Datuk bulang    : Cepat katakan saja.
Awang                      :(menghela nafas) siapkan 5 wanita berpakaian 5 warna, masing-masing berbeda corak. Wanita itu adalah sanak saudara datu, paling baik putri sendiri, mereka sedang hamil sulung sampai bulan.
(para datuk kaget danlangsung berdiri)
Datuk moro         : Apakah harus seperti itu?
Datuk sugi          : Sudahlah, kita ikuti saja, tentu kita tak ingin dimurkai sultan.
Datuk bulang    : Benar, demi keselamatan desa kita.
Adegan 14
         Kata sahibul kayat pula, tibalah saat perang bulan pasang perbani. Sejak meghrib semua yang datang telah di tutup matanya. Para pembantu awangpun siap menjalankan perintah.  Awangpun membisikkan sesuatu ketelinga pembantunya, dah mereka yang datangpun tak tahu apa yang awang katakan.
Wanita2 Hamil   : Tolong!!!!!!! Jangan lindas perut kami. Jangan sakiti kami……….
Datuk bulang    : Apakah yang tengah dibuat awang itu?
Datuk sugi          : Ntahlah datuk, sayapun bingung. Kita lihat sajalah datuk apa yang akan terjadi.
         Ketika fajar mulai terbit, memekiklah awang.
Awang                     : Semua yang hadir harap tenang.
                              Siap………….!!!! Bismilla……..
         Akhirnya, penjajap itu akhirnya dapat turun kelaut, dan para datukpun membuka tutup mata mereka masing-masing. Semua yang datang sangat terkejut, melihat penjajap telah turun kelaut dan melihat ke 5 wanita hamil tersebut sudah melahirkan anak laki-laki secara bersamaan.
Adegan 15
           Setelah penjajap itu berlayar, Nampak dikejauhan perahu lanun tengah merapat ke sebuah pulau terpencil. Awangpun merapatkan penjajapnya kepulau itu. Para lanun yang menyadari kedatangan awang, mulai mengatur siasat untuk mengalahkan awang.
Jack                     : Kapten, lihat ada sebuah kapal yang dari tadi mengikuti kita dan sekarang juga ikut merapat kepulau ini.
Ben                       : benar kapten, sepertinya dia dari pulau tempat kita menculik gadis ini. (sambil menjambak rambut putri)
Putri                     : Biadab kalian, jangan sakiti aku.
Kapten                 : Tenang, siapapun yang datang, akan kita hadapi.
Tiba-tiba……………….
Awang                     : Hai kau, lepaskan putrid dan gadis itu!!!!!!!!!!!!
Putri                     : Kanda, tolong aku.
Kapten                 : Siapa kau??? Berani sekali kau melarang kami
Awang                     : Sekali lagi ku peringatkan, cepat serahkan putrid dan gadis itu.
Jack                     : Sudah kapten, kita habisi saja dia. Dia hanya akan mengganggu kesenangan kita. Kita tebas saja kepalanya kapten.
Kapten                 : kalau begitu, kau yang pertama jack.
Terjadilah pertarungan antara jack dan awang yang dimenangkan oleh awang.
Ben                       : Kapten, dia berhasil mengalahkan jack. Apa yang harus kita lakukan?
Kapten                 : Sekarang giliranmu yang maju ben…
Ben                       : Tapi……………..
Kapten                 : Alah, lakukan saja. Kau bilang tadi akan membunuh dia. Cepat lakukan!!!!!!!!!
Dan sama dengan nasib jack, benpun kalah oleh awang. Sang kaptenpun turun tangan langsung menghadapi awang.
Kapten                 : Cukup, aku takkan main2 padamu sekarang. Kau akan mati
Awang                     : Tunjukkan kemampuanmu!!!!!!!!!!11
         Kemudian, terjadilah pertarungan yang sengit antara kapten dan awang. Kekuatan mereka sama. Dan akhirnya awangpun berhasil mengalahkan kapten, tapi ketika hendak menusuk kapten dengan pedangnya sendiri, sang putri berteriak.
Awang                     : Ucapkan permintaan terakhirmu sebelum pedangmu ini membunuh mu.( bersiap menghunuskan pedang ke perut kapten)
Putri                     : Jangan kanda, tak ada gunanya membunuh dia.
Awang                     : Astagfirullah……….. (terhenyak)
Kapten                 : Ampun tuan, aku mengaku kalah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi.
Awang                     :  Baiklah, kau ku maafkan, tapi kalau kalian masih membuat onar disekitar sini, aku akan membunuhmu.
Akhirnya, awang berhasil membawa putri pulang keistana dengan selamat. Sebagai tanda terimakasih, sang sultan memberi restu kepada awang untuk menikahi sang putri. Akahirnya mereka menikah dan hidup bahagia. Sedangkan 5 anak yang dilahirkan oleh kelima wanita, menjadi panglima yang sangat tangguh di perairan riau dan berhasil menumpas semua perompak yang ada.

                                                                  Tamat  :

Kategori:Tak Berkategori
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: